Semester I 2026 sudah resmi masuk buku sejarah sebagai yang terburuk dalam sejarah modern IHSG. Indeks turun tajam 19,93% sepanjang Q2, atau turun 34,74% sepanjang semester pertama dengan angka penutupan 5.643.
Tapi ada yang berubah. Diam-diam, sesuatu mulai bergerak berbeda.
Fase Baru Dimulai
Semester kedua ini, IHSG mulai menunjukkan tanda-tanda technical rebound. Pada awal Juli, berhasil bangkit dari area 5.607 menuju sekitar 5.875 pekan lalu, ditopang mulai masuknya pembelian pada saham-saham berkapitalisasi besar dan meredanya tekanan jual di beberapa sektor.
Tapi rebound ini belum cukup untuk disebut pemulihan penuh. Pasar telah melewati fase panic selling, tetapi belum sepenuhnya memasuki fase bull market baru.
Ada empat syarat yang harus terpenuhi sebelum itu bisa terjadi: arah kebijakan fiskal pemerintah di semester II, stabilitas rupiah, hasil laporan keuangan emiten Q2, dan arus dana asing yang kembali masuk secara berkelanjutan.
Dan dari keempat itu, yang paling dekat dan paling bisa dikontrol oleh pasar dalam beberapa pekan ke depan adalah laporan keuangan Q2.
Musim yang Paling Ditunggu Tahun Ini
Perhatian investor tidak lagi hanya tertuju pada sentimen global, tetapi mulai beralih ke musim laporan keuangan triwulan II-2026 yang akan menjadi penentu arah banyak saham.
Ini adalah moment of truth bagi semua saham yang sudah Pollrev bahas sepanjang 2026:
BBNI, laba yang terus berakselerasi 4%→6%→7% di lima bulan pertama. Apakah tren ini terkonfirmasi di Q2? Laporan keuangan Q2 dijadwalkan rilis 24 Juli 2026.
BMRI, pertumbuhan laba 16,57% di Q1. Apakah momentum ini bertahan di tengah kenaikan suku bunga ganda dari BI?
ADRO, pendapatan diproyeksikan hampir dua kali lipat di 2026. Apakah angka Q2 mulai mencerminkan lompatan itu?
TLKM, arus kas operasional tumbuh meski laba turun karena depresiasi. Apakah NII mulai memperbaiki narasi?
Setiap angka yang lebih baik dari ekspektasi bisa jadi katalis rally saham individual yang sangat kencang — bahkan di tengah IHSG yang masih konsolidasi.
Satu Event yang Bisa Mengubah Arah Global
FOMC Minutes pada 8 Juli berpotensi menjadi penentu arah pasar global untuk beberapa pekan ke depan.
Kalau risalah rapat The Fed mengkonfirmasi sinyal dovish seperti yang sudah dibahas Pollrev di NEWS Minggu lalu maka arus modal global bisa mulai bergerak kembali ke emerging market.
Indonesia, dengan valuasi pasar yang sudah sangat terkompresi dan tekanan jual asing yang total Rp73,60 triliun sepanjang semester I, adalah salah satu pasar yang paling "siap" menerima arus balik itu.
Level yang Perlu Dipantau Pekan Ini
Support terdekat: 5.800 –5.760. Resistance: 5.950 hingga area psikologis 6.000–6.050. IHSG perlu stabil di atas 6.471 sepanjang Q3 agar dapat dikatakan kembali uptrend.
Pekan ini bukan waktunya all-in. Tapi juga bukan waktunya duduk sepenuhnya di pinggir.
Baca juga: Bedah Saham BBNI: 19 dari 19 Analis Bilang Beli
Baca juga: Investor yang Tetap DCA Saat Crash Ternyata Lebih Untung
Baca juga: Cara Baca Laporan Keuangan Saham dalam 10 Menit
Pollrev merilis analisa mingguan setiap Kamis. Tandai halaman ini!
Disclaimer: Bersifat edukatif. Bukan rekomendasi beli atau jual. Selalu lakukan riset mandiri.
