Namanya tidak sepopuler BBRI atau BBCA di kalangan investor ritel. Tidak seheboh TPIA yang sempat anjlok 53%.
Tapi diam-diam, satu saham ini melakukan sesuatu yang hampir tidak pernah dilakukan emiten manapun di Bursa Efek Indonesia.
Membagikan 99,96% labanya kepada pemegang saham — sambil harga sahamnya justru naik hampir 29% dalam setahun, di tengah IHSG yang sedang babak belur.
Namanya ADRO. Dan inilah bedah singkatnya.
Bukan Batu Bara Biasa
PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) membukukan laba bersih US$447,69 juta sepanjang 2025.
Dari angka itu, manajemen menetapkan payout ratio yang sangat signifikan: 99,96% dari total laba bersih, dan hampir tidak ada yang tersisa.
Tapi bukan berarti manajemen tidak percaya diri dengan masa depan bisnis. Justru sebaliknya — saldo laba ditahan ADRO masih duduk manis di US$3,22 miliar, lebih dari cukup untuk mendanai ekspansi tanpa perlu mengorbankan dividen.
Yang menarik:
Di saat banyak emiten batu bara terseok mengikuti fluktuasi harga komoditas, pendapatan ADRO mayoritas kini terbagi antara segmen pertambangan (US$966,34 juta) dan jasa pertambangan (US$865,28 juta), dua kaki yang saling menopang bahkan saat harga batu bara sedang tidak bersahabat.
Satu Angka yang Bikin Mata Melotot
Dividend yield ADRO per hari ini: 18,78%.
Bukan salah baca. Delapan belas koma tujuh delapan persen. Di saat deposito menawarkan 4-5%, obligasi pemerintah 6-7%, dan BBRI yang sudah dianggap "raja dividen perbankan" yang memberikan yield sekitar 13%.
Tentu ada konteksnya:
Yield setinggi itu sebagian mencerminkan harga saham yang sudah lebih rendah dari puncaknya, dan payout ratio mendekati 100% tidak akan selalu berkelanjutan selamanya. Tapi untuk tahun ini, angkanya nyata.
Transformasi yang Belum Banyak Dibahas|
Yang paling menarik dari ADRO bukan dividen jumbonya saja tapi transformasinya yang senyap.
Proyeksi pendapatan ADRO diperkirakan melonjak dari Rp16,03 triliun pada 2025 menjadi Rp31,78 triliun pada 2026 dan hampir dua kali lipat dalam satu tahun.
Pelipatgandaan pendapatan seperti ini tidak terjadi hanya dari batu bara. Ada cerita transformasi bisnis yang lebih besar di baliknya — dari pure play coal miner menuju perusahaan energi terintegrasi.
Dan asing sudah mulai mencium arahnya: ADRO masuk dalam daftar saham dengan net buy asing terbesar pekan terakhir, bersama emiten-emiten energi lain yang mulai diakumulasi secara selektif.
Angka yang Perlu Kamu Tahu
| Data | Nilai |
|---|---|
| Harga saat ini | ~Rp2.260–2.270 |
| 52-Week Range | Rp1.625 – Rp2.700 |
| Performa setahun | +28,98% |
| Dividend Yield | ~18,78% |
| Target analis (rata-rata) | Rp3.047 |
| Target analis (tertinggi) | Rp3.616 |
| Buyback aktif | Rp5 Triliun |
Baca juga: Ranking Saham Dividen Terbaik Semester I 2026
Baca juga: Bedah Saham PTBA: Raja Dividen Batu Bara yang Masih Layak?
Baca juga: Investor yang Tetap DCA Saat IHSG Crash Ternyata Lebih Untung
Pollrev akan update bedah saham ADRO setelah rilis laporan keuangan Q2 2026 pada 31 Agustus 2026.
Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif semata. Bukan rekomendasi beli atau jual. Selalu lakukan riset mandiri sebelum berinvestasi.
