Investor yang Tetap Beli Saham Saat IHSG Anjlok 29% Ternyata Lebih Untung dari yang Cash Out — Ini Rahasianya


Bulan Mei 2026, ribuan investor panik dan menjual semua sahamnya saat IHSG ambruk ke 5.317.

Tapi ada satu kelompok investor lain yang melakukan hal yang terlihat gila di mata mayoritas orang: mereka justru terus beli saham, bulan demi bulan, tanpa peduli harga sedang naik atau turun.

Dan ironisnya, justru kelompok kedua inilah yang akan keluar sebagai pemenang ketika pasar akhirnya pulih. Strategi mereka punya nama: 


Dollar Cost Averaging (DCA) — dan ini adalah strategi yang dipakai Warren Buffett sendiri merekomendasikan untuk investor kebanyakan.

Hari ini Pollrev akan membahas tuntas strategi yang sederhana tapi sangat powerful ini — kenapa ini bekerja, bagaimana cara menerapkannya, dan kenapa periode crash seperti yang baru kita lewati di 2026 justru adalah momen terbaik untuk strategi ini.

Apa Itu Dollar Cost Averaging (DCA)?

DCA adalah strategi investasi di mana kamu menginvestasikan jumlah uang yang sama, secara rutin, ke saham yang sama, tanpa peduli harga sedang naik atau turun saat itu.

Bandingkan dengan Lump Sum Investing — strategi yang membeli sekaligus dalam jumlah besar di satu waktu. 


DCA berbeda total: alih-alih masuk sekaligus, kamu membagi modal jadi porsi-porsi kecil dan membelinya secara berkala — misalnya setiap bulan, di tanggal yang sama, setiap kali gajian.

Misalnya kamu mau investasi Rp1 juta per bulan ke saham BBRI. Dengan DCA:

  • Bulan 1: Harga BBRI Rp3.000 → kamu beli 333 lembar
  • Bulan 2: Harga turun ke Rp2.600 → kamu beli 384 lembar (lebih banyak!)
  • Bulan 3: Harga naik lagi ke Rp3.200 → kamu beli 312 lembar
  • Bulan 4: Harga Rp2.800 → kamu beli 357 lembar


Kamu tidak pernah berusaha menebak "kapan harga paling rendah". Kamu cuma konsisten beli — dan secara otomatis, kamu akan membeli lebih banyak lembar saat harga murah, dan lebih sedikit lembar saat harga mahal.

Kenapa DCA Bekerja? Matematika di Baliknya


Ini bagian yang sering tidak disadari investor pemula: DCA secara matematis menghasilkan harga rata-rata beli (average cost) yang lebih rendah dibanding kalau kamu mencoba menebak timing pasar sendiri.

Karena ada satu fakta penting yang harus kamu terima: tidak ada seorangpun yang mampu menebak atau memprediksi secara akurat dan konsisten tentang pergerakan pasar modal. 


Bahkan hanya 5% atau 1 dari 20 Manajer Investasi profesional yang mencoba membeli atau menjual di "waktu yang tepat" berhasil mengalahkan benchmark mereka.


Kalau bahkan profesional dengan tim riset besar gagal menebak market timing dengan konsisten, kenapa investor ritel harus mencoba?

DCA menghilangkan masalah itu sepenuhnya. Kamu tidak perlu menebak. Sistem yang berjalan otomatis ini memaksamu untuk tetap rasional di tengah pasar yang digerakkan oleh dua emosi utama: ketakutan (fear) dan keserakahan (greed).

Studi Kasus Nyata: DCA Selama Badai 2026

Mari kita bayangkan skenario nyata berdasarkan apa yang sebenarnya terjadi di pasar Indonesia sepanjang 2026.

Investor A — Panic Seller

Investor A punya Rp12 juta di saham BBRI sejak awal tahun. Saat IHSG mulai turun di Mei, dia panik dan menjual semua sahamnya di harga rendah karena takut harganya turun lebih jauh. 


Dia "selamat" dari kerugian lebih lanjut — tapi juga kehilangan kesempatan rebound 7,38% yang terjadi setelah IHSG menyentuh titik terendah 5.317 di 8 Juni.

Investor B — DCA Disciplined

Investor B berinvestasi Rp1 juta per bulan ke BBRI sejak Januari 2026, tanpa peduli kondisi pasar.


BulanKondisi PasarHarga BBRI (estimasi)Lembar Dibeli
JanuariNormalRp4.200238
MaretMulai tertekanRp3.800263
MeiCrash MSCIRp3.040329
Juni (awal)Crash terdalamRp2.620382
Juni (akhir)Mulai reboundRp2.900345


Investor B yang "membeli lebih banyak unit saat harga sedang turun" justru mengakumulasi jauh lebih banyak lembar saham di bulan-bulan crash terburuk — Mei dan Juni — dibanding bulan-bulan normal. 


Begitu pasar mulai rebound, harga rata-rata (average cost) Investor B jauh lebih rendah dari harga BBRI di awal tahun, dan dia memegang lebih banyak total lembar saham.

Inilah keajaiban DCA: koreksi pasar yang menakutkan bagi Investor A justru menjadi mesin akumulasi murah bagi Investor B.

5 Langkah Menerapkan DCA di Pasar Saham Indonesia

Langkah 1: Pilih Saham Berfundamental Sangat Kuat

Ini adalah aturan paling krusial yang sering dilupakan. DCA wajib dilakukan hanya pada saham-saham berfundamental sangat kuat (Blue Chip). 


Kalau kamu melakukan DCA pada saham perusahaan yang kinerjanya terus memburuk menuju kebangkrutan, DCA justru akan memperbesar kerugianmu — bukan menguranginya.

Pilih saham seperti BBRI, BBCA, BMRI, atau TLKM — saham-saham yang sudah Pollrev bedah lengkap dan terbukti fundamentalnya solid meski harganya tertekan oleh sentimen eksternal.

Bagi pemula yang sama sekali tidak bisa membaca laporan keuangan, DCA di Reksa Dana Saham atau ETF jauh lebih aman karena diversifikasinya diatur oleh Manajer Investasi profesional.

Langkah 2: Tentukan Nominal Tetap yang Tidak Mengganggu Cash Flow

Pilih nominal yang nyaman — di Bursa Efek Indonesia, pembelian minimal adalah 1 lot (100 lembar). Kamu bisa memulai DCA dengan modal Rp100.000 hingga Rp500.000 per bulan, tergantung harga saham yang kamu sasar.

Yang penting: jangan pilih nominal yang membuatmu "berat" setiap bulan. DCA harus bisa berkelanjutan selama bertahun-tahun — kalau nominalnya terlalu besar dan membuatmu stres finansial, kamu akan berhenti di tengah jalan, dan itu menghancurkan seluruh keuntungan strategi ini.

Langkah 3: Tetapkan Jadwal yang Konsisten

Tanggal ideal adalah segera setelah kamu menerima penghasilan atau gaji bulanan. Banyak aplikasi sekuritas sekarang sudah punya fitur "Auto-Invest" atau "auto-order" yang bisa membeli otomatis di tanggal yang sama setiap bulan — jadi kamu tidak perlu repot mengingat atau tergoda untuk skip karena "kelihatannya harga lagi mahal".

Langkah 4: Jangan Berhenti Saat Pasar Turun

Ini adalah ujian psikologis terbesar dalam DCA. Menurut disiplin murni DCA, kamu tidak boleh berhenti. Tetap beli sesuai jadwal — bahkan, justru saat pasar sedang crash seperti yang terjadi Mei-Juni 2026, di sinilah DCA menunjukkan kekuatan sesungguhnya.

Banyak investor pemula rontok di tahun pertama karena tekanan psikologis melihat portofolio merah. Sistem DCA yang berjalan otomatis menyelamatkan dari masalah ini.

Langkah 5: Reinvestasi Dividen untuk Akselerasi Compounding

Gunakan strategi DRIP (Dividend Reinvestment Plan). Uang tunai dari dividen yang masuk ke rekening dana investor jangan ditarik — gabungkan dengan modal DCA bulan berikutnya untuk membeli lebih banyak lot saham.

Untuk saham seperti BMRI dan BBRI yang sudah kita bahas punya yield dividen di atas 11% tahun ini, strategi reinvestasi dividen ini bisa mengakselerasi pertumbuhan portofolio secara signifikan dalam jangka panjang.

DCA vs Lump Sum: Mana yang Lebih Baik?


AspekDCALump Sum
Cocok untukInvestor dengan penghasilan rutin, modal terbatasInvestor dengan modal besar sekaligus
Risiko market timingRendah — tidak perlu menebakTinggi — bisa masuk di harga puncak
Hasil saat bull market panjangKurang optimal (beli di harga makin mahal)Lebih optimal jika masuk di awal
Hasil saat market volatile/crashSangat optimal (akumulasi murah)Berisiko jika masuk sebelum crash
Beban psikologisRendah — sistem otomatisTinggi — harus tepat timing


Untuk kondisi pasar Indonesia 2026 yang penuh volatilitas — crash MSCI Mei, rebound Juni, ketidakpastian MSCI Classification Review — DCA jelas lebih cocok dibanding lump sum bagi mayoritas investor ritel yang tidak punya waktu memantau pasar setiap hari.

Berapa Lama DCA Harus Dijalankan?

Minimal 5 hingga 10 tahun. Hasil dari strategi DCA saham baru akan terasa secara eksponensial setelah kamu melewati berbagai siklus pasar (naik dan turun) serta efek dari dividen yang digulung (compounding) mulai bekerja membesarkan modal awal.

Ini bukan strategi untuk cepat kaya. Justru kebosanan dan rutinitas dalam menjalankan DCA adalah pertanda bahwa kamu sedang berada di jalur yang benar menuju kemandirian finansial — bukan kegagalan.

Kapan DCA Tidak Bekerja Optimal?

Penting untuk realistis: DCA tidak optimal jika pasar sedang bullish tajam terus-menerus, karena pembelian rutin justru bisa membuat harga rata-rata lebih tinggi dari yang seharusnya kalau kamu masuk lump sum di awal.

Tapi untuk pasar yang volatile seperti Indonesia 2026 — di mana IHSG bisa anjlok 29% lalu rebound 7,38% dalam hitungan minggu — DCA justru menjadi strategi yang sangat tepat karena fluktuasi besar ini adalah "bahan bakar" utama yang membuat DCA efektif.

Kesimpulan: Kebosanan adalah Kunci

Strategi Dollar Cost Averaging mungkin terasa membosankan. Tidak ada adrenalin layaknya seorang day trader yang memantau layar setiap menit. Tapi justru di situlah kekuatannya.

Sejarah pasar saham yang sehat akan terus mencetak titik tertinggi baru di masa depan seiring inflasi dan pertumbuhan ekonomi negara. 


Investor yang konsisten menjalankan DCA — terutama yang berani tetap beli saat orang lain panik jual di Mei 2026 — akan menjadi mereka yang paling diuntungkan ketika pemulihan pasar benar-benar terjadi.

Seperti kata Warren Buffett: "Be fearful when others are greedy, and greedy when others are fearful." DCA adalah cara paling sistematis dan tanpa drama untuk menjalankan filosofi itu — tanpa harus jadi jenius pasar modal sekalipun.

Baca juga: Bedah Saham BBRI: Profil, Kinerja Q1 2026, Dividen & Prospek

Baca juga: Ranking Saham Dividen Terbaik Semester I 2026

Baca juga: 10 Saham Defensif Terbaik Saat IHSG Crash

Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif semata, bukan saran finansial profesional. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing pembaca. Selalu lakukan riset mandiri dan sesuaikan dengan profil risiko sebelum berinvestasi.

Post a Comment (0)
Previous Post Next Post

80+ Istilah & Tools Gratis

Bingung Mulai Belajar Saham?

Ikuti panduan step-by-step dari nol tanpa perlu background keuangan. Plus kalkulator & kamus saham gratis.

Mulai dari Sini →